Kebiasaan Begadang Gen Z Ditemani Minuman Manis, Ini Dampaknya pada Gula Darah
Begadang telah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, baik karena tuntutan akademik, pekerjaan freelance, hingga aktivitas hiburan seperti bermain gim, menonton serial, atau berselancar di media sosial. Waktu malam dianggap sebagai momen paling produktif dan tenang, sehingga banyak anak muda rela mengorbankan jam tidur demi menyelesaikan berbagai aktivitas. Sayangnya, kebiasaan ini hampir selalu ditemani dengan minuman manis seperti kopi susu kekinian, teh boba, minuman energi, atau minuman sachet instan. Kombinasi begadang dan konsumsi gula tinggi inilah yang sering luput disadari sebagai beban tambahan bagi tubuh, khususnya pada sistem metabolisme dan pengaturan gula darah.
Minuman Manis sebagai “Teman Setia” Begadang
Minuman manis dipilih karena dianggap mampu menjaga mata tetap terjaga dan meningkatkan fokus. Kandungan gula dan kafein memang memberikan lonjakan energi secara cepat, namun efek ini bersifat sementara. Ketika kadar gula darah naik secara drastis, tubuh akan merespons dengan melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menurunkannya kembali. Jika pola ini terjadi berulang, terutama di malam hari saat metabolisme tubuh melambat, maka sistem pengaturan gula darah akan bekerja ekstra keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.
Dampak Begadang terhadap Regulasi Gula Darah
Kurang tidur terbukti memiliki hubungan erat dengan gangguan metabolik. Saat begadang, tubuh kehilangan waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki sel dan menyeimbangkan hormon, termasuk hormon yang mengatur nafsu makan dan kadar gula darah. Begadang membuat hormon kortisol meningkat, yang secara tidak langsung dapat menaikkan kadar gula darah. Ketika kondisi ini dikombinasikan dengan asupan minuman manis, lonjakan gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan. Akibatnya, tubuh berada dalam kondisi “siaga metabolik” terus-menerus yang melelahkan sistem pankreas.
Risiko Jangka Panjang yang Sering Diremehkan

Banyak Gen Z merasa tubuh mereka masih kuat dan mampu mentoleransi kebiasaan begadang sambil minum manis. Namun, efeknya sering baru terasa setelah bertahun-tahun. Risiko seperti peningkatan berat badan, mudah lelah, sulit fokus di siang hari, hingga gangguan toleransi glukosa bisa muncul perlahan. Bahkan, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di usia yang lebih muda, sesuatu yang sebelumnya lebih identik dengan kelompok usia dewasa dan lansia.
Mengubah Kebiasaan Tanpa Harus Ekstrem
Mengurangi dampak buruk bukan berarti harus langsung berhenti begadang atau menghilangkan semua minuman favorit. Langkah sederhana seperti membatasi konsumsi minuman manis, memilih versi tanpa gula tambahan, memperbanyak air putih, serta memastikan tidur cukup di hari-hari tertentu sudah dapat membantu meringankan beban gula darah. Kesadaran sejak dini menjadi kunci agar Gen Z tetap bisa produktif tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.